Kamis, 22 Agustus 2013

MAAFKAN AKU, NAILA

Namaku Naila. Saat ini aku kuliah jurusan Kesehatan Masyarakat di salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan di Madiun. Di masa – masa kuliahku saat ini, aku dekat sekali dengan seorang laki – laki yang baru 6 bulan aku kenal. Namanya Indra. Dia adalah seorang laki – laki berusia 35 tahun sebagai anak tunggal . Karena  sejak kecil dia berpisah dengan ayahnya, saat ini dia sangat dekat sekali dengan pamannya yang bernama Dedi . Selama ini Indra yang aku kenal, dia sangat baik, sangat pengertian, dan apa adanya.
Waktu itu, Indra dan pamannya menyempatkan untuk datang ke rumahku. Ternyata satu – satunya tujuan dia datang ke rumahku adalah ingin melamarku.
“Ada perlu apa Nak Indra datang ke sini?” Tanya ibuku kepada Indra.
“Maksud kedatangan kami ke sini adalah ingin melamar Naila, “ kata Indra kepada kedua orang tuaku.
Aku sangat senang mendengar kabar itu. Aku terus berdo’a agar rencana ini tidak akan pernah sia – sia.
“ Ya Alloh, jika Indra memang benar – benar jodohku, dekatkanlah hati kami, pertemukanlah kami kembali di waktu yang Engkau tentukan. “
Lalu beberapa hari kemudian, Indra menelponku.
“Naila…..,”Indra memanggilku lewat telpon.
“ Ya… Ini aku Naila,” jawabku kepada Indra.
“ Aku, pamanku, dan kedua orang tuamu sudah sepakat tentang rencana bahwa aku akan melamarmu. Tapi rencananya aku akan melamarmu setelah kamu selesai skripsimu nanti,” kata Indra kepadaku.
“ Baiklah. Jika itu yang terbaik, aku akan pegang janjimu,” kataku kepada Indra.
Kemudian kami membuat kesepakatan bahwa  dalam waktu 3 bulan ini kami tidak akan saling menelpon ataupun sms hingga skripsiku selesai.  
Waktu terus berjalan. Tiga bulan sudah aku lalui hingga akhirnya skripsiku selesai. Sementara itu, aku punya seorang kakak yang tinggal di Jakarta. Namanya Rian. Kebetulan rumah kakakku Rian sangat dekat jaraknya dengan rumah Indra di Jakarta.
Beberapa Minggu kemudian Kak Rian ingin datang ke rumah Indra di Jakarta. Kebetulan di rumah Indra ada paman dan semua saudaranya yang sedang berkumpul di sana.
“ Silahkan masuk nak Rian,” kata ibunya Indra kepada Kak Rian.
“ Saya datang ke sini ingin bersilaturahmi dan ingin mengabarkan bahwa sekarang Naila skripsinya sudah selesai,”kata Kak Rian kepada keluarga Indra.
“ Iya. Saya tahu, Nak Rian. Mungkin selain bersilaturahmi, Nak Rian ingin membicarakan rencana lamaran Indra dengan Naila, kan?” kata Om Dedi kepada Kak Rian.
“Iya, Om,” jawab Kak Rian
“ Sebelumnya kami minta maaf,” kata Indra kepada Kak Rian.
“ Maaf kenapa?” tanya Kak Rian kepada Indra.
“Maaf, saya tidak bisa melanjutkan hubungan saya dengan Naila,”jawab Indra kepada Kak Rian. 
“ Dulu Indra memang sudah sepakat ingin melamar Naila, tapi sekarang Indra berubah pikiran. Keponakan saya ini usianya sudah 35 tahun, sedangkan Naila 25 tahun masih terlalu muda untuk Indra. Jika Indra menikah dengan Naila, kami takut suatu saat nanti terjadi ketidakcocokan antara Indra dengan Naila,” kata Om Dedi kepada Kak Rian.
“ Tapi Naila sudah suka dengan Indra. Dan dulu Indra sudah sepakat bahwa dia ingin melamar Naila,” kata Kak Rian kapada Om Dedi.
“ Sebenarnya kami sangat kasihan kepada Naila. Karena kami tidak ingin Naila kecewa karena menikah dengan laki – laki yang jarak usianya 11 tahun dengan Naila,” kata Om Dedi kepada Kak Rian.
“ Baiklah. Jika memang itu keputusannya. Tapi Naila dan kedua orang tuanya juga harus tahu tentang kabar pembatalan lamaran ini. Karena hidup di dunia ini Naila masih punya kedua orang tua, dan tidak hanya punya seorang kakak saja,” kata Kak Rian dengan rasa kecewa.
“ Iya. Besok saya akan memberitahu kabar ini kepada kedua orang tua Naila. Maaf jika saya sudah membuat keluarga Naila kecewa,”kata Indra kepada Kak Rian.
Sementara aku yang tinggal di Madiun, merasakan bahwa suatu saat akan terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan. Mudah – mudahan saja firasatku ini salah. Aku terus berdo’a dan memohon agar diberikan perkara yang baik oleh Alloh. Semoga Indra tidak pernah ingkar atas janjinya.
Beberapa hari kemudian, kakakku pulang ke Madiun. Setelah makan bersama, kami berkumpul di ruang keluarga dan ingin berbincang – bincang.
“ Sebelumnya aku ingin menyampaikan maaf dari Indra kepada kalian, terutama Naila,”kata Kak Rian.
“ Kenapa, Kak?” kataku dengan rasa cemas.
“ Indra tidak bisa melanjutkan hubungan ini denganmu. Dia bilang padaku bahwa dia membatalkan rencana untuk melamarmu,” kata Kak Rian kepada kami.
“ Tidak mungkin, Kak. Kamu pasti bohong, kan? Indra itu orangnya baik. Dia tidak pernah mengingkari atas janjinya,” kataku kepada Kak Indra dengan rasa kecewa.
Lalu aku masuk ke kamar dan mencoba untuk menenangkan diri. Aku butuh kepastian langsung dari dia bahwa apa yang dikatakan Kak Rian itu salah. Akhirnya aku mencoba untuk menghubungi Indra lewat telpon.
“ Hallo.... Ini aku Indra. Sebelumnya aku minta maaf karena aku sudah membuatmu kecewa. Mungkin kamu sudah tahu semuanya dari kakakmu. Jadi, aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar kapadamu tentang pembatalan lamaran ini,” kata Indra kepadaku.
“ Mengapa kamu membatalkan lamaran ini?” tanyaku kapada Indra.
“Mungkin kamu sudah tahu alasannya,” jawab Indra kepadaku.
“ Alasan apa?”kataku kepada Indra.
“Karena aku dan kamu jarak usianya terlalu jauh. Mungkin aku terlalu tua untuk menjadi pendampingmu, begitu pula sebaliknya,” Jawab Indra.
“Dulu kamu janji bahwa setelah aku selesai skripsi kamu akan melamarku. Tapi ternyata kamu melupakan janji itu,” kataku dengan rasa kecewa.
“ Aku tidak pernah lupa dengan janji itu. Tapi sekarang keadaan sudah berubah. Aku tidak ingin jika suatu saat nanti kita menikah ada ketidakcocokan diantara kita. Aku tidak ingin menyakitimu saat kita nanti sudah berumah tangga. Daripada nanti terjadi masalah setelah kita menikah, lebih baik hubungan ini kita akhiri sampai disini saja sebelum semuanya terlambat,” kata Indra kapadaku. 
Setelah mendengar perkataan – perkataan Indra, aku mencoba mengabaikan pembicaraannya lewat telpon dan menangis setelah tahu bahwa Indra telah mengingkari janjinya. Namun, Indra masih terus ingin berbicara lewat telpon denganku.
“Naila….. Apakah kamu masih mendengarku?” tanya Indra kepadaku.
“ Sekali lagi aku minta maaf. Aku do’akan semoga kamu dapat laki – laki yang lebih baik dariku, yang lebih menyayangimu,” kata Indra kepadaku.
“ Baiklah. Aku janji tidak akan mengganggumu lagi. Mulai sekarang lupakan aku dan hiduplah bahagia bersama wanita yang kamu sukai,” kataku kepada Indra. 
Akhirnya aku akhiri perbincanganku dengan Indra. Dan mencoba untuk tidak mengangkat telpon darinya lagi.
“Sudahlah. Manusia hanya bisa merencanakan, tapi Alloh yang menentukan. Jika Indra memang jodohmu, ibu yakin suatu saat nanti Alloh pasti akan mempertemukan kalian kembali,” kata ibuku sambil mendekatiku.
Bagaimanapun juga aku harus bisa menerima kenyataan ini. Karena aku berpikir bahwa suatu saat nanti aku yakin akan menemukan sosok laki – laki yang lebih baik dari Indra yang lebih menyayangiku.