Namaku Naila. Saat ini aku kuliah
jurusan Kesehatan Masyarakat di salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan di
Madiun. Di masa – masa kuliahku saat ini, aku dekat sekali dengan seorang laki
– laki yang baru 6 bulan aku kenal. Namanya Indra. Dia adalah seorang laki –
laki berusia 35 tahun sebagai anak tunggal . Karena sejak kecil dia berpisah dengan ayahnya, saat
ini dia sangat dekat sekali dengan pamannya yang bernama Dedi . Selama ini
Indra yang aku kenal, dia sangat baik, sangat pengertian, dan apa adanya.
Waktu itu, Indra dan pamannya
menyempatkan untuk datang ke rumahku. Ternyata satu – satunya tujuan dia datang
ke rumahku adalah ingin melamarku.
“Ada perlu apa Nak Indra datang
ke sini?” Tanya ibuku kepada Indra.
“Maksud kedatangan kami ke sini
adalah ingin melamar Naila, “ kata Indra kepada kedua orang tuaku.
Aku sangat senang mendengar kabar
itu. Aku terus berdo’a agar rencana ini tidak akan pernah sia – sia.
“ Ya Alloh, jika Indra memang
benar – benar jodohku, dekatkanlah hati kami, pertemukanlah kami kembali di
waktu yang Engkau tentukan. “
Lalu beberapa hari kemudian,
Indra menelponku.
“Naila…..,”Indra memanggilku
lewat telpon.
“ Ya… Ini aku Naila,” jawabku
kepada Indra.
“ Aku, pamanku, dan kedua orang
tuamu sudah sepakat tentang rencana bahwa aku akan melamarmu. Tapi rencananya
aku akan melamarmu setelah kamu selesai skripsimu nanti,” kata Indra kepadaku.
“ Baiklah. Jika itu yang terbaik,
aku akan pegang janjimu,” kataku kepada Indra.
Kemudian kami membuat kesepakatan
bahwa dalam waktu 3 bulan ini kami tidak
akan saling menelpon ataupun sms hingga skripsiku selesai.
Waktu terus berjalan. Tiga bulan
sudah aku lalui hingga akhirnya skripsiku selesai. Sementara itu, aku punya
seorang kakak yang tinggal di Jakarta. Namanya Rian. Kebetulan rumah kakakku
Rian sangat dekat jaraknya dengan rumah Indra di Jakarta.
Beberapa Minggu kemudian Kak Rian
ingin datang ke rumah Indra di Jakarta. Kebetulan di rumah Indra ada paman dan
semua saudaranya yang sedang berkumpul di sana.
“ Silahkan masuk nak Rian,” kata
ibunya Indra kepada Kak Rian.
“ Saya datang ke sini ingin
bersilaturahmi dan ingin mengabarkan bahwa sekarang Naila skripsinya sudah
selesai,”kata Kak Rian kepada keluarga Indra.
“ Iya. Saya tahu, Nak Rian.
Mungkin selain bersilaturahmi, Nak Rian ingin membicarakan rencana lamaran
Indra dengan Naila, kan?” kata Om Dedi kepada Kak Rian.
“Iya, Om,” jawab Kak Rian
“ Sebelumnya kami minta maaf,”
kata Indra kepada Kak Rian.
“ Maaf kenapa?” tanya Kak Rian
kepada Indra.
“Maaf, saya tidak bisa
melanjutkan hubungan saya dengan Naila,”jawab Indra kepada Kak Rian.
“ Dulu Indra memang sudah sepakat
ingin melamar Naila, tapi sekarang Indra berubah pikiran. Keponakan saya ini
usianya sudah 35 tahun, sedangkan Naila 25 tahun masih terlalu muda untuk
Indra. Jika Indra menikah dengan Naila, kami takut suatu saat nanti terjadi
ketidakcocokan antara Indra dengan Naila,” kata Om Dedi kepada Kak Rian.
“ Tapi Naila sudah suka dengan
Indra. Dan dulu Indra sudah sepakat bahwa dia ingin melamar Naila,” kata Kak
Rian kapada Om Dedi.
“ Sebenarnya kami sangat kasihan
kepada Naila. Karena kami tidak ingin Naila kecewa karena menikah dengan laki –
laki yang jarak usianya 11 tahun dengan Naila,” kata Om Dedi kepada Kak Rian.
“ Baiklah. Jika memang itu keputusannya.
Tapi Naila dan kedua orang tuanya juga harus tahu tentang kabar pembatalan
lamaran ini. Karena hidup di dunia ini Naila masih punya kedua orang tua, dan
tidak hanya punya seorang kakak saja,” kata Kak Rian dengan rasa kecewa.
“ Iya. Besok saya akan memberitahu
kabar ini kepada kedua orang tua Naila. Maaf jika saya sudah membuat keluarga
Naila kecewa,”kata Indra kepada Kak Rian.
Sementara aku yang tinggal di
Madiun, merasakan bahwa suatu saat akan terjadi sesuatu yang tidak aku
inginkan. Mudah – mudahan saja firasatku ini salah. Aku terus berdo’a dan
memohon agar diberikan perkara yang baik oleh Alloh. Semoga Indra tidak pernah
ingkar atas janjinya.
Beberapa hari kemudian, kakakku
pulang ke Madiun. Setelah makan bersama, kami berkumpul di ruang keluarga dan
ingin berbincang – bincang.
“ Sebelumnya aku ingin
menyampaikan maaf dari Indra kepada kalian, terutama Naila,”kata Kak Rian.
“ Kenapa, Kak?” kataku dengan
rasa cemas.
“ Indra tidak bisa melanjutkan
hubungan ini denganmu. Dia bilang padaku bahwa dia membatalkan rencana untuk
melamarmu,” kata Kak Rian kepada kami.
“ Tidak mungkin, Kak. Kamu pasti
bohong, kan? Indra itu orangnya baik. Dia tidak pernah mengingkari atas
janjinya,” kataku kepada Kak Indra dengan rasa kecewa.
Lalu aku masuk ke kamar dan
mencoba untuk menenangkan diri. Aku butuh kepastian langsung dari dia bahwa apa
yang dikatakan Kak Rian itu salah. Akhirnya aku mencoba untuk menghubungi Indra
lewat telpon.
“ Hallo.... Ini aku Indra.
Sebelumnya aku minta maaf karena aku sudah membuatmu kecewa. Mungkin kamu sudah
tahu semuanya dari kakakmu. Jadi, aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar
kapadamu tentang pembatalan lamaran ini,” kata Indra kepadaku.
“ Mengapa kamu membatalkan
lamaran ini?” tanyaku kapada Indra.
“Mungkin kamu sudah tahu
alasannya,” jawab Indra kepadaku.
“ Alasan apa?”kataku kepada
Indra.
“Karena aku dan kamu jarak
usianya terlalu jauh. Mungkin aku terlalu tua untuk menjadi pendampingmu,
begitu pula sebaliknya,” Jawab Indra.
“Dulu kamu janji bahwa setelah
aku selesai skripsi kamu akan melamarku. Tapi ternyata kamu melupakan janji
itu,” kataku dengan rasa kecewa.
“ Aku tidak pernah lupa dengan
janji itu. Tapi sekarang keadaan sudah berubah. Aku tidak ingin jika suatu saat
nanti kita menikah ada ketidakcocokan diantara kita. Aku tidak ingin
menyakitimu saat kita nanti sudah berumah tangga. Daripada nanti terjadi
masalah setelah kita menikah, lebih baik hubungan ini kita akhiri sampai disini
saja sebelum semuanya terlambat,” kata Indra kapadaku.
Setelah mendengar perkataan –
perkataan Indra, aku mencoba mengabaikan pembicaraannya lewat telpon dan
menangis setelah tahu bahwa Indra telah mengingkari janjinya. Namun, Indra
masih terus ingin berbicara lewat telpon denganku.
“Naila….. Apakah kamu masih
mendengarku?” tanya Indra kepadaku.
“ Sekali lagi aku minta maaf. Aku
do’akan semoga kamu dapat laki – laki yang lebih baik dariku, yang lebih
menyayangimu,” kata Indra kepadaku.
“ Baiklah. Aku janji tidak akan
mengganggumu lagi. Mulai sekarang lupakan aku dan hiduplah bahagia bersama
wanita yang kamu sukai,” kataku kepada Indra.
Akhirnya aku akhiri
perbincanganku dengan Indra. Dan mencoba untuk tidak mengangkat telpon darinya
lagi.
“Sudahlah. Manusia hanya bisa
merencanakan, tapi Alloh yang menentukan. Jika Indra memang jodohmu, ibu yakin
suatu saat nanti Alloh pasti akan mempertemukan kalian kembali,” kata ibuku
sambil mendekatiku.
Bagaimanapun juga aku harus bisa
menerima kenyataan ini. Karena aku berpikir bahwa suatu saat nanti aku yakin
akan menemukan sosok laki – laki yang lebih baik dari Indra yang lebih
menyayangiku.